Pengibaran Bendera Bawah Laut

September 15, 2008

Peringatan HUT RI 2004 diisi dengan bakti social penyebaran poster bagi masyarakat pesisir Kec. Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten oleh pengurus CAI dan pengurus DPD LDII Provinsi Banten. Kegiatan ditutup dengan pengibaran bendera didasar laut kawasan lindung laut berbasis masyarakat. Upacara diikuti 18 penyelam dan sejumlah masyarakat non penyelam yang turut mengikuti dipermukaan air.

Upacara Bendera bawah Laut adalah agenda rutin CAI DC dan DPD Provinsi Banten, kegiatan ini selain menumbuhkan semangat patriotisme juga mengundang para penyelam seluruh tanah air untuk bertindak nyata, sejumlah poster berhasil didistribusikan pada lembaga masyarakat dan pemerintahan Kecamatan  Sumur, Ujung Kulon, Banten.

Lima Penyelam CAI DC terdafar dalam kegiatan monitoring dan pendataan terumbu karang di kawasan Taman Nasional Kepulauan Karimunjawa, Jepara. Kegiatan selam 6 hari diantaranya mencatat biota laut (invert), karang dan ikan yang menjadi barometer kesehatan / kualitas terumbu karang, dalam pulau-pulau dan kedalaman yang berbeda-beda.

Iklan

Mangrove / Bakau Tidak Bisa Melindungi Dari Tsunami

September 14, 2008

Mangrove / Bakau – Tidak Bisa Melindungi dari Tsunami

Mangrove dan sabuk hijau di kawasan pesisir hanya memberikan sedikit bahkan tidak ada perlindungan terhadap kekuatan mematikan dari tsunami.

Ini merupakan penemuan kontroversial dari laporan penelitian baru-baru ini, Penelitian dari ARC Centre of Excellence for Coral Reef Studies (CoECRS) di Universitas james Cook dan Universitas Guam, dan the Wildlife Conservation Society-Indonesia Programme (WCS-IP) telah memutar balikan pernyataan bahwa tingkat kematian didapatkan rendah di desa yang terlindungi oleh mangrove saat tsunami 2004.

Penemuan para peneliti tersebut menantang pernyataan yang baru-baru ini dikeluarkan oleh UNEP, beberapa LSM, dan ilmuwan lain bahwa ‘sabuk hijau’ dan daerah penyangga harus digalakkan usaha rekonstruksinya untuk melindungi penduduk desa dari tsunami mendatang.

Pada kenyataannya, para ekolog mengingatkan, sabuk hijau ini bisa memberikan pengertian salah akan keamanan, yang membawa lebih banyak korban jiwa hilang di tragedi yang sama di masa depan.

Ketika Dr Alex Kerr, Dr Andrew Baird dan Dr Stuart Campbell, menganalisa kembali data dari penelitian di India baru-baru ini, mereka menemukan bahwa ketinggian diatas permukaan laut dan jarak dari pantai yang cenderung melindungi penduduk di beberapa desa, bukan dari vegetasi.

“Analisa ulang kami mengungkap bahwa jarak desa dari pantai serta tinggi desa diatas permukaan air laut menjelaskan 87% variasi kematian diantara desa tersebut. Ketika dua variabel ini diperhitungkan, daerah vegetasi hanya menyediakan 1% peningkatan di kekuatan penjelasan,” ujar Dr Kerr.

“Kaitan yang ada andtara area vegetasi dan kematian sebenarnya disebabkan oleh kebanyakan dari vegetasi tumbuh pada elevasi diatas tinggi air laut – dan semakin jauh jarak dari laut, semakin luas-lah daerah vegetasi.”

“Singkatnya, jika anda membuat perbandingan dua desa dengan ketinggian dan jarak yang sama dari laut, perbedaan luas area vegetasi hanya akan membuat perbedaan kecil dalam jumlah korban jiwa akibat tsunami.”

Dr Baird menambahkan bahwa analisa baru ini mengartikan adanya bahaya asli yang berlebih dari penegasan kapasitas proteksi vegetasi terhadap kejadian tsunami. “Hitan mangrove memberikan masyarakat pesisir denga banyak jasa dan barang berarga. Namun, mengarapkan mereka untuk melindungi dari tidaklah realistic. Setelah erupsi gunung Krakatau, tsunami yang dihasilkannya bahkan menerobos hingga 8 kilometer kedalam hutan utama daratan.”

“Saat ini daerah penyangga sedang diperkuat dengan kombinasi legislasi pemerintah, dan penolakan bantuan bagi orang orang yang berharap untuk kembali ke rumah mereka terdahulu, dengan keyakinan bahwa kawasan tersebut akan menjadi proteksi bagi kejadian besar dimasa depan. Daerah penyangga ini hanyala antara 100 dan 500 meter, bahkan di India dan Sri lanka daerah ini mungkin sudah diisi jutaan manusia sekarang.”

“Sebuah ide yang indah jika sabuk hijau bisa menghentikan tsunami, dan tujuannya akhirnya bisa dibayangkan. Namun tidak benar, dan tidak akan bekerja.”

Logikanya, jalur terbaik ialah membangun lebih jauh dari laut dan dataran lebih tinggi, Namun, hal ini tidak bisa dipertimbangkan sebagai alasan sebuah isolasi daerah menimbang harga sosial ekonomi dan hati dari memindahkan seluruh masyarakat dan kehidupannya, para peneliti mengatakan.

“Meskipun properti telah hancur semua, dalam memindahkan masyarakat dari keberadaan pesisir mereka kita harus mempertimbangkan dislokasi sosial dan potensi konflik yang muncul.”

Dr Baird menambahkan dimensi lain dari permasalahan ini adalah pada kenyataanya pada kebanyakan kasus alasan sabk hijau ini digunakan oleh para pengembang dan pejabat setempat sebagai alasan utama untuk memindahkan masyarakat, sehingga mereka bisa membangun fasilitas di garis pantai yang luang tersebut.

Sumber : http://cai-diving.org/joomla/index.php?option=com_content&task=view&id=33&Itemid=34


Perjuangan Hidup Semakin Berat Bagi Ikan

September 13, 2008

Perjuangan hidup semakin berat bagi ikan

Penelitian di Australia mengungkapkan bahwa ikan-ikan muda dalam kesulitan bertahan hidup dan bahkan lebih lagi dibawah perubahan iklim saat ini.

Perbedaan lingkungan yang dialami saat awal kehidupan tidak hanya sebagai penentu utama ketahanan hidup bayi-bayi ikan, namun juga jelas mempengaruhi peluang suksesi hidupnya sepanjang hidupnya nanti.

Ini merupakan penemuan dari penelitian Dr Monica Gagliano dan Dr Mark MCCOrmick dari CoeCRS dan James Cook University, dengan kolega Dr Mark Meekan dari Australian Institute of Marine Science (AIMS).

Tim tersebut telah mempelajari ratusan ikan damselfish Ambon sejak telur hingga dewasa untuk melihat manakah kualitas parental danlingkungan yang menentukan dan mempengaruhi bentuk ketahanan hidup mereka selanjutnya.

“Ketahanan hidup embrio ikan secara dramatis dapa ditolerir hingga temperatur air 31oC, dimana tidak pada umumnya untuk di kawasan ini” Dr Gagliano Mengatakan.

“Tidak dipngkiri lagi bahwa kualitas orang tua dan lingkungan awal yang bayi ikan alami hingga mereka berkembang memiliki pengaruh utama pada siapa yang akan bertahan hidup”.

“Untuk pertama kalinya, kami bisa menentukan nasib ikan-ikan muda dala lingkungan alami dengan mengikuti mereka sejalan dengan waktu, semenjak meninggalkan induk mereka hingga bulan-bulan dimana mereka kembali menetap dalam terumbu lagi,” she says.

Penemuan dari tim, baru-baru ini diterbitkan di jurnal ilmiah prestisius Oceologia, Journal of Animal Ecology dan Proceedings of Royal Society: Biological ScienceI, menunjukkan bahwa pengaruh ibu pada ikan muda dan juga lingkungan yang dihadapi sebelum awal hidup mereka, memiliki konsekuensi pengaruh jangka panjang dalam menentukan siapa yang bertahan untuk repopulasi kembali ereka di terumbu.

Pengamatan mendetail dari tim melihat perjuangan pertumbuhan di Great Barrier Reef dan penelitian mereka membiat kita mengerti bagaimana ikan ini, dan lainnya, dapat dikelola dan dilindungi sehingga mereka dapat bertahan dalam ancaman perubahan iklim.

Sementara berkesempatan membawa induk dengan kualitas baik dan kualitas lingkungan dapat secara signifikan menentukan kesuksesan hidup individu dalam hidupnya, perubahan besar di lingkungan saat ini mungkin dapat menepis kemungkinan persyaratan untuk kelangsungan hidup ini.

Saat lingkungan terumbu sedang mengalami perubahan dramatis di hadapan perubahan iklim/pemanasan global, memahami kehidupan kompleks dari ikan menjadi sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup mereka di masa depan, dimana ikan damselfish yang berwarna-warni, dengan kebanyakan spesies ikan karang lainnya di GBR, kesemuanya merupakan hal vital bagi lingkungan di kawasan tersebut – dan merupakan bagian dari daya tarik yang menghasilkan $4.5 milyar pariwisata di kawasan tersebut.

Bersama kolega mereka dari CoECRS, JCU dan AIMS, Dr Gagliano sekarang ingin menginvestigasi dampatperubahan lingkungan yang terjadi sekarang dan menterjemahkannya dalam masa datang.

“Kemungkinanya ialah keadaan penuh strees yang dialami ikan sekarang mungkin telah diturunkan kepada generasi bayi-bayi sukses yang kebanyakan belum teramati, dan nampaknya kan sangat jauh dibawah penemuan kita baru-baru ini”.

====================================================================

Bagaimana dengan laut sekitar mu?

Bagaimana dengan laut Indonesia?

Sumber : http://cai-diving.org/joomla/index.php?option=com_content&task=view&id=28&Itemid=34


Kegiatan CAI Diving dan CAI Outbond

September 11, 2008

CAI (Cinta Alam Indonesia) di daerah Banten khususnya muda-mudi memiliki kegiatan Cinta Alam Indonesia outbond dan Cinta Alam Indonesia Diving Club. Kegiatan di CAI Outbond sudah banyak, baik kegiatan di lingkungan warga LDII maupun di lingkungan perusahaan, seperti perusahaaan PT. Asahimas, PT. Krakatau Steel, dsb. Begitu juga kegiatan di CAI Diving Club kegiatan yang tiap tahun di adakan adalah pengibaran bendera merah putih didalam laut dan sering melakukan transplantasi karang di Tanjung Lesung.

Ketua kegiatan ini yaitu Bapak Edwin Sumirosa, beliau adalah salah seorang pendiri dan penggagas adanya CAI Diving dan CAI Outbond.

Kegiatan itu pun di dukung oleh beberapa anggota diantaranya Sdr. Febri, Sdr. Kustiaditya Wiguna, Sdr. Muksin Ali, dll. anda bisa berkunjung ke web resmin CAI Diving dan CAI Outbond di : http://cai-diving.org

Struktur Organisasi

Pembina                                            : H Ahmad Basyarie Msc.
Ketua Umum                                     : Edwin Sumiroza
Sekertaris                                          : Eka Frieda R
Bendahara                                         : Hasti Dwi N
Kepala Divisi
1. Lingkungan dan kemasyarakatan : Kustiaditya Wiguna
2. Humas                                          : Siham Afatta
3. Pelatihan                                       : Arif
4. Perlengkapan                                : Febri
5. SAR dan Medis                              : Muksin Ali