LDII Sesat Karena Mangkul?

Juni 21, 2015

LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) saat ini telah menjadi fenomena paling menarik dalam demokrasi dan kebebasan beragama di negara ini. Di luar mainstream utama NU dan Muhammadiyah belum pernah ada organisasi Islam yang sempat berkembang dan membesar seperti LDII. Berbeda dengan NU dan Muhamadiyah yang pada saat kelahirannya mendapatkan tentangan dari pemerintahan Hindia Belanda, perjuangan LDII justru menghadapi rintangan dari masyarakat dan pemerintah sendiri.

Menariknya adalah cikal bakal LDII yang dikenal dengan nama Islam Jamaah merupakan kelompok Islam yang kehadirannya mendapat perlawanan paling kuat dari masyarakat karena dianggap aliran sesat. Bahkan pemerintah sempat mengeluarkan larangan resmi terhadap aktivitas kelompok tersebut di seluruh Indonesia. Image masyarakat terhadap LDII-pun tidak berubah hingga kini sebagai jelmaan dari organisasi terlarang Islam Jamaah. Namun sejauh ini LDII tetap eksis dan terus berkembang pesat. Faktanya dari 10 kriteria aliran sesat yang dirilis Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak satupun menyangkut di LDII.

Ada yang berspekulasi bahwa eksistensi LDII saat ini semata-mata karena mendapatkan perlindungan dari rezim Orde Baru yang dimotori oleh Golongan Karya saat itu. Bagaimana mungkin satu golongan Islam bisa berdiri di belakang rezim otoriter yang represif terhadap umat Islam? Asumsi ini sangat masuk akal pada masa jayanya Orba. Namun sejarahpun membuktikan ketika pemerintahan Pak Harto runtuh dan partai pohon beringin saat ini kekuasaannya terus menyusut, LDII tidak terpengaruh sedikitpun. LDII tetap jaya dan terus berkembang di mana-mana.

LDII dan Mangkul

Banyak isu yang digunakan untuk mendiskriditkan LDII namun salah satu yang paling pokok adalah masalah SISTEM MANGKUL.

Berikut ini adalah pengertian mangkul dari berbagai sumber. Tentu saja semua deskripsi tersebut adalah sepihak yang dibuat orang luar LDII dan belum pernah ada klarifikasi atau tabayun. Sayangnya LDII sendiri hingga saat ini belum tergerak untuk memberikan klarifikasi terhadap isu akidah yang fundamental itu.

Sistem manqul menurut H. Nurhasan Ubaidah Lubis adalah: “Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru; telinga langsung mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat. Terhalang dinding atau lewat buku tidak sah”.

Sedang murid tidak dibenarkan mengajarkan apa saja yang tidak manqul sekalipun ia menguasai ilmu tersebut, kecuali murid tersebut telah mendapat Ijazah dari guru maka ia dibolehkan mengajarkan seluruh isi buku yang telah diijazahkan kepadanya itu”. (Drs. Imran AM. Selintas Mengenai Islam Jama’ah dan Ajarannya, Dwi Dinar, Bangil, 1993, hal.24).

Kemudian di Indonesia ini satu-satunya ulama yang ilmu agamanya manqul hanyalah Nurhasan Ubaidah Lubis.

Ajaran ini bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. yang memerintahkan agar siapa saja yang mendengarkan ucapannya hendaklah memelihara apa yang didengarnya itu, kemudian disampaikan kepada orang lain, dan Nabi tidak pernah mem berikan Ijazah kepada para sahabat. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا، ثُمَّ أَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا .
Artinya: “Semoga Allah mengelokkan orang yang mendengar ucapan lalu menyampaikannya (kepada orang lain) sebagaimana apa yang ia dengar”.
(Syafi’i dan Baihaqi)

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kepada orang yang mau mempelajari hadits-haditsnya lalu menyampaikan kepada orang lain seperti yang ia dengar. Adapun cara bagaimana atau alat apa dalam mempelajari dan menyampaikan hadits-haditsnya itu tidak ditentukan. Jadi bisa disampaikan dengan lisan, dengan tulisan, dengan radio, tv dan lain-lainnya. Maka ajaran manqulnya Nurhasan Ubaidah Lubis terlihat mengada-ada.

Wajibnya Mangkul

Beberapa sumber yang berhasil dihimpun oleh Dakwah Islam Indonesia Online, termasuk catatan salah seorang teman LDII di Facebook dengan akun bernama Kayaprima berjudul BAHAYANYA MEMAHAMI AL QUR AN DAN HADIS TANPA MANGKUL mengungkapkan pengertian berbeda tentang mangkul.

Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru; telinga langsung mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat.
Pengertian ini ada benarnya apablia dalam kontek belajar membaca Al-Quran. Seorang murid hendaknya mengetahui persis gerak bibir dan posisi lidah gurunya agar bacaan yang dihasilkan benar sesuai tajwid dan mahrod. Namun tidak benar apabila dikaitkan dengan pengajaran tafsir Quran atau hadist secara umum dalam LDII. Dalam prakteknya saat ini LDII juga mengadakan pengajian online antar Negara menggunakan media Teleconference.
Mengenai dalil :
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا، ثُمَّ أَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا .
Artinya: “Semoga Allah mengelokkan orang yang mendengar ucapanKu (Nabi) lalu menyampaikannya (kepada orang lain) sebagaimana apa yang ia dengar”. (Syafi’i dan Baihaqi)
Dalil ini sebenarnya justru menjadi landasan pokok sistem mangkul. Inti utama dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah “orang yang mendengar ucapanKu” sehingga menjadi prinsip sistem mangkul “GURU BERBICARA MURID MENDENGARKAN”.

Berdasarkan dalil tersebut mangkul adalah metode belajar ilmu agama secara turun menurun dari guru ke murid. Syarat pokok dalam system mangkul adalah ada guru dan ada murid. Transfer ilmu dari guru ke murid sebenarnya hal yang lazim dalam disiplin ilmu apapun.

Seseorang tidak akan bisa menjadi sarjana tanpa bimbingan dari guru atau dosen. Seseorang itu bisa saja belajar sendiri suatu disiplin ilmu di luar sistem pendidikan yang ada dan sangat mungkin ia bisa lebih mahir dari yang lulusan universitas. Akan tetapi ilmunya tidak sah dan tidak ada orang atau institusi yang mengakuinya.

Dalam Islam tidak dikenal system belajar otodidak, membaca dan memahami Quran dan Hadist dengan akal / angan-angan sendiri tanpa bimbingan seorang guru.

Karyaprima dalam catatannya menunjukkan pendapat beberapa ulama tentang pentingnya mangkul, musnad, muttasil yang salah satunya adalah pendapat Imam as-Syafi’e r.a. dan Imam Badruddin ibn Jama’ah:
Imam as-Syafi’e r.a. berkata:
“Barangsiapa yang bertafaqquh (coba-coba memahami agama) melalui isi kandungan buku-buku, maka dia akan mensia-siakan hukum (kefahaman yang sebenarnya)”. [lihat Tazkirah As-Sami’e: 87]

Imam as-Syafi’i juga mengungkapkan bahayanya menuntut ilmu tanpa bimbingan guru: “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu”. (lihat Faidhul Qadir juz 1 hal 433)

Imam Badruddin ibn Jama’ah memberikan komentarnya:
Maksudnya:
“Hendaklah seseorang penuntut ilmu itu berusaha mendapatkan Sheikh yang mana dia seorang yang menguasai ilmu-ilmu Syariah secara sempurna, yang mana dia melazimi para sheikh yang terpercaya di zamannya yang banyak mengkaji dan dia lama bersahabat dengan para ulama’, bukan berguru dengan orang yang mengambil ilmu hanya dari dada-dada kertas buku dan tidak bersahabat dengan para sheikh (ulama’bersanad’) yang agung.” [lihat Tazkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim 1/38]

Dengan demikian, tuduhan bahwa ilmu manqul yang diterapkan LDII itu sesat adalah sangat lemah karena dasarnya hanya hadist yang telah dipelintir pemgertiannya dengan keterangan-keterangan royu / pendapat sendiri yang tendensius. Sementara, banyak ulama masyhur yang shohih menekankan pentingnya menuntut ilmu pada guru yang bersanad. Sedangkan tuduhan bahwa di Indonesia ini satu-satunya ulama yang ilmu agamanya manqul hanyalah Nurhasan Ubaidah Lubis, adalah tidak benar karena LDII tidak pernah mengklaim seperti itu.

Ilmu mangkul bertujuan untuk menjaga kemurnian agama Islam secara turun temurun ila Yaumil Kiyamah. Sesuai ucapan Imam as-Syafi’i, ilmu yang tidak bersandar pada guru yang bersanad sangat berbahaya karena tidak aman dari kepentingan-kepentingan orang hasut yang ingin merusak Islam.

Link : http://www.generus313.blogspot.com/2013/07/ldii-sesat-sesatnya-saja-seperti-ldii.html

Iklan

LDII Tebar Daging Qurban Untuk Daerah Bencana

Desember 2, 2010

Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia atau DPP LDII bekerjasama dengan Dewan Masjid Indonesia atau DMI menggelar acara ”Tebar Paket Daging Qurban” bagi masyarakat yang terkena musibah di letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah dan bencana tsunami di Kepulauan Mentawai serta banjir bandang Wasior, Rabu (17/11/2010)

Ketua Umum DPP LDII Abdullah Syam dalam rilis yang diterima Kompas.com menuturkan, guna membantu masyarakat yang terkena bencana seluruh warga LDII di daerah terdekat diperintahkan untuk memberikan daging kurban kepada korban bencana alam.

“Ini merupakan wujud kesetikawanan sosial warga LDII kepada saudara kita yang terlena musibah. Ibarat badan kalau kaki kita sakit maka anggota badan lainnya juga merasakan, begitu pula dengan bencana yang menimpa negeri ini, kita juga merasakan kesulitan saudara-saudara kita
didaerah bencana tersebut,” kata Abdullah Syam.

Baca entri selengkapnya »


Kapolri Baru Harus Gandeng Ormas

Oktober 19, 2010

Jumat, 8 Oktober 2010 | 09:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Tantangan Kapolri mendatang salah satunya adalah masih adanya konflik horizontal di tengah masyarakat. Untuk itu, pimpinan Polri mendatang harus bisa menggandeng organisasi masyarakat (ormas) untuk meminimalkan konflik.

Baca entri selengkapnya »


LDII Ajak Ormas Tingkatkan Kebersamaan dan Kamtibmas

Oktober 12, 2010

Jakarta (ANTARA News) – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengajak jajaran organisasi kemasyarakatan (Ormas) khususnya Ormas Islam di Indonesia untuk meningkatkan silarahmi guna meningkatkan kebersamaan, persaudaraan, keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Ajakan tersebut dikemukakan Ketua Umum DPP LDII Prof Dr KH Abdullah Syam dalam acara Halal Bihalal jajaran LDII dengan sejumlah Ormas Islam, di Jakarta, kemarin malam, yang bertemakan “Kita Tingkatkan Kebersamaan, Keamanan dan Ketertiban Masyarakat”.

Hadir dalam acara itu antara lain Ketua MUI Pusat Prof Dr Umar Shihab, anggota DPD-RI AM Fatwa, perwakilan PP Muhammadiyah yakni Abdul Mu’ti, perwakilan PBNU Dr Malik Madani dan Ketua Partai Gerindra Prof Dr Suhardi, Kombes Pol Muktiyanto dari Mabes Polri dan unsur tokoh masyarakat.

Baca entri selengkapnya »


Pemerintah Diminta Tak Abaikan Pembakaran Quran

September 2, 2010

Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah Indonesia diminta tak mengabaikan rencana Dove World Outreach Center membakar kitab suci Quran di Florida, Amerika Serikat, 11 September nanti. Persoalan ini penting untuk mengantisipasi reaksi sejumlah kalangan di Tanah Air terkait peristiwa itu.

Demikian kesimpulan yang dihasilkan dalam dialog antara Front Pembela Islam (FPI), Komisi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang tergabung dalam Gerakan Peduli Pluralisme di Jakarta, Rabu (1/9).

Semua pihak dalam gerakan ini sepakat untuk mengecam rencana pembakaran Quran. Ketua Umum FPI Habib Rizieq mengimbau umat Islam di Indonesia tidak terpancing [baca: FPI Kutuk Rencana.

DI kutip News Yahoo.com


Mendapat Keutamaan Ramadhan Dengan I’tikaf

September 2, 2010

Allah SWT memberikan balasan atas sebuah amal ibadah secara berlipat ganda pada bulan Ramadhan. Alangkah ruginya kita jika Ramadhan berlalu begitu saja tanpa adanya ibadah yang kita lakukan. Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk memperoleh keutamaan ibadah di bulan suci Ramadhan,  salah satunya adalah dengan i’tikaf.

Secara bahasa, i’tikaf berarti al-ihtibas (tertahan) dan al-muqam (menetap), yaitu menahan diri dari pada sesuatu, atau menetap di suatu tempat walaupun hanya sekejap. Sedangkan menurut istilah syara’, i’tikaf dapat diartikan dengan menetap dan tinggal di dalam masjid dengan tujuan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Hukum asal i’tikaf adalah sunnah dilaksanakan pada tiap-tiap waktu, terlebih jika dilakukan pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Hukum dan dalil disyariatkannya i’tikaf adalah firman Allah SWT, Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’, dan yang sujud”. (QS. Al-Baqarah [2]: 125)

Diriwayatkan dari Aisyah ra, dia berkata: Adalah Rasulullah bersungguh-sungguh beribadah pada malam yang akhir (dari bulan Ramadhan), tidak seperti apa yang beliau lakukan pada hari-hari yang lainnya. (HR. Muslim). Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa turut beri’tikaf bersamaku, hendaklah ia beri’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir. (HR. Malik)

Baca entri selengkapnya »


LDII Siap Ikuti Arahan MUI

September 1, 2010

JKT, Ormas ini akan mengklarifikasi cap negatif terhadapnya secara bottom up, yakni dengan mendorong warga LDII untuk meningkatkan interaksi sosial. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII, KH Abdullah Syam, mengaku pihaknya sudah melakukan klarifikasi di Komisi Fatwa MUI atas cap negatif yang selama ini berkembang di masyarakat terhadap LDII.

Kami masih dituding suka mengafir-kafirkan orang, menajis- najiskan orang, kalau ada orang luar LDII masuk masjid LDII harus dipel dan sebagainya,? kata dia kepada wartawan seusai Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LDII 2007 di Jakarta, kemarin (6/3).

Baca entri selengkapnya »