Hanya MUI Bisa Memberi Stempel Sesat

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang menunda sidang putusan sela terhadap terdakwa Hajarullah Aswad, yang diduga melakukan pencemaran nama baik dan penistaan agama, Selasa (28/10). Penundaan ini karena majelis tidak lengkap, sehingga membuat kecewa puluhan warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang memenuhi ruang sidang utama pengadilan. LDII dalam hal ini menjadi korban dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan terdakwa dalam talk show di RRI pada November 2007.

Hajarullah didakwa telah melakukan perbuatan di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian, dan penghinaan terhadap Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) serta pencemaran nama baik. Hal itu diungkapkan terdakwa pada acara talk show di Radio Republik Indonesia (RRI) tanggal 3 November 2007, sekitar pukul 08.00 WIB, dengan topik Al Hidayah Al Islamiyah. Atas sebab itu jaksa penuntut umum (JPU) mendakwa Hajarullah dengan pasal 156 Junto pasal 310 KUHP.

Menangapi penundaan sidang ini,  Ketua Umum LDII Kepri Drs H Abdul Manap Chaniago mengatakan seorang tokoh agama hanya membaca buku dan menyatakan sebuah organisasi sesat, merupakan perbuatan yang tidak pas.

“Tokoh agama dan bekerja di Departemen Agama, seharusnya terdakwa lebih arif dan profesional,” tegasnya. ia mengaku sangat menyayangkan sikap yang tidak profesional terdakwa, karena jika terdakwa profesional seharusnya kasus ini tidak masuk ke pengadilan. “Saya cukup kecewa dengan penundaan ini, namun itu adalah proses hukum,” ungkap dia.

Mengenai banyaknya warga LDII yang hadir, Manap menyatakan sebagai bentuk support bukan ada maksud lain.  Dijelaskan Abdul Manap, yang berhak memberikan stempel sesat adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan fatwanya. Dia mengatakan sampainya kasus ini ke pengadilan, karena terdakwa meminta diselesaikan di pengadilan. “Kami hanya meminta keadilan dan hukum ditegakkan,” imbuh dia.

Tentang buku yang menjadi pedoman terdakwa, menurut Abdul Manap, itu adalah orang-orang yang mencari uang dengan menerbitkan buku. Dan buku itu sudah lima tahun lalu beredar, namun LDII adalah orang-orang Islam yang menjalankan Al Quran dan hadits, dan tidak ada fatwa MUI yang melarang LDII.

“LDII adalah sebuah lembaga dakwah, bukan aliran tertentu yang menyimpang dari ajaran agama Islam,” tegas Manap.  Dia mengatakan jika umat salah, jangan dimusuhi tetapi dirangkul. Apalagi oleh seorang yang bekerja di Depag. Dia menambahkan jika ada keraguan dengan LDII silakan datang, masjid LDII tersebar di banyak tempat di Kepri. Manap juga mengaku memiliki sekitar 7.000 warga.(gas)
http://tribunbatam.co.id/index.php/pinang-region/hanya-mui-bisa-memberi-stempel-sesat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: