Pasca Ramadhan

Setiap orang punya kesan berbeda ketika menjumpai ramadhan. Setiap orang punya harapan berbeda ketika melewati ramadhan. Setiap orang punya cerita yang berbeda ketika merayakan lebaran. Apakah kesan yang nyantel di benak kita sekarang? Setelah ramadhan?

Banyak orang merasakan hal yang biasa. Puasa ya seperti itu. Tarawih ya begitu itu. Lebaran apalagi, dari dulu ya seperti itu. Ada ketupat, opor, lontong dan berbagai kudapan lain aroma pesta. Ada halal bil halal, saling memaafkan, baju baru dan silaturahim antar sesama. Ada mudik, ada kemacetan dan paceklik pembantu di hampir semua pintu.

Sebagian lagi ada yang memaknai ramadhan sebagai ujian. Hari demi hari diisi dengan banyak beribadah. Tekun. Mereka berusaha khusyu’, tawadhu’. Meninggalkan yang lahan – lahan. Menjauhi kemaksiatan. Emoh dosa dan rakus pahala. Mereka menghentikan semua yang tidak berguna. Mengepolkan cari pahala. Bahkan mencoba beramal yang luar biasa. Seolah-olah mencari pulihan. Tetapi begitu lebaran tiba, keadaan menjadi berbeda. Mereka sibuk merayakannya. Mereka sibuk berpesta. Perut – perut bagai waduk. Terisi sejuta makanan apa saja. Mereka merayakan seolah mereka telah lulus ujian selama sebulan. Alhasil setelah lebaran perilaku mereka kembali seperti semula. Tak ada kelanjutan dan sisa dari amalan bulan ramadhan mengisi hari – hari di depannya.

Sebagian lagi, ada yang memaknai ramadhan sebagai bulan pelatihan. Bulan melatih diri untuk meningkatkan amalan. Bukan bulan ujian. Mereka menyambut bulan ramadhan ini dengan penuh cemas dan hati – hati. Apa yang mau dilatih di bulan suci ini agar meningkat di kemudian hari? Apa yang perlu diperbaiki di bulan lailatul qodar ini? Apa yang perlu disucikan dari harta dan jiwa ini? Doanya selalu minta ampunan. Tarawihnya berlandaskan keikhlasan. Tadarusnya berharap kedekatan. Sedekahnya menuju pada kedermawanan dan i’tikafnya sebagai bukti kesungguhan. Puasanya sebagai media merasakan kehadiran-Nya. Zakatnya sebagai pensuci jiwa dan raganya. Amalan sunnah lainnya ditingkatkan demi keridhoan-Nya. Dan ketika lebaran tiba, gema takbir menjadi pertanda untuk segera mempraktikkan apa yang telah dilatih itu di hari – hari berikutnya. Dengan hati dan jiwa yang suci, semakin trengginas dan methithi. Menyingsingkan baju, mengisi bulan – bulan berikutnya seperti amalan di bulan ramadhan.

Ada dimanakah kita dari tiga pilihan itu? Pilihan yang biasa – biasa saja, ujian atau pelatihan? Mumpung belum jauh mari kita introspeksi lagi. Adakah kita sudah lupa bagaimana mendirikan 11 rekaat setelah isya’? Adakah kita keberatan untuk tadarus lagi? Adakah kita merasa capek beribadah? Adakah kita jumawa telah beramal banyak? Adakah susah menjaga ibadah sunnah lainnya? Apakah kita enggan meneruskan tradisi berpuasa? Kenapa semua seolah hilang begitu saja? Kesungguhan itu sirna bersama aroma pesta hari raya. Adakah ada yang kurang pas dengan ibadah kita?

Kekeliruan itu ada pada cara pandang kita terhadap bulan yang mulia dan barokah itu. Kebanyakan kita memandang sebagai bulan ujian bukan sebagai bulan pelatihan. Hasilnya seperti yang banyak kita lihat saat ini. Semua seolah kembali lagi pada kondisi semula, pasca ramadhan dan tidak ada jejak sama sekali yang tersisa. Kecuali aroma pestanya. Setidaknya ketika selesai ramadhan kita bisa dirikan sholat sunnah setelah isya. Tidak perlu 11 rekaat, sebab anyang-anyangen. Mungkin juga tidak qiyamul lail. Cukuplah witir saja sebelum tidur. Setidaknya ketika selesai ramadhan kita bisa sambung puasa sunnahnya, 6 hari di bulan syawal dan tidak perlu banyak – banyak cukup 3 hari saja per bulan lainnya. Untuk menggugah kembali, mari kita simak hadist berikut ini.

Dari Ai’syah r.a, “Sesungguhnya Nabi SAW tidak menambah di dalam bulan Ramadhan dan tidak pula mengurangkannya dari 11 rakaat.(R. Al-Bukhory).

Hadist ini sering kita pahami hanya masalah jumlah rekaatnya saja yaitu 11 rekaat sholat tarawih. Padahal selain itu, hadist ini menampakkan kontinuitas amalan di bulan sebelum, selama dan sesudah ramadhan. Artinya datangnya ramadhan adalah sebagai refreshing, up date, pembaharuan, charge, dan semisalnya bukan sebagai ujian. Ramadhan datang sebagai penggembira ketika kepenatan beribadah dalam 11 bulan datang. Banyak sekali kefadholan – kefadholan ada di dalamnya. Oleh karena itu alangkah naifnya jika ternyata, setelah ramadhan kita berada atau kembali seperti keadaan semula, tanpa bisa menjaga kedawaman salah satu amalan yang kita perbuat dikala ramadhan. Sebab wasiat – wasiat junjungan kita Nabi Muhammad SAW begitu jelas untuk menjaga amalan itu langgeng walau hanya sedikit.

Dari Abu Huroiroh r.a, dia berkata, ”Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga perkara, agar aku berpuasa tiga hari setiap bulan, melaksanakan sholat dhuha 2 rekaat dan melaksanakan sholat witir sebelum tidur.”[Rowahu Al-Bukhory (Kitaabu al-Jumu’ati), Muslim ( Kitaabu Sholaati al-Mufaasiriina wa qoshrohaa), Abu Dawud (Kitaabu As-Sholaah), at-Tirmidzi (Kitaabu as-Shoumi) dan an-Nasa’i (Kitaabu as-Shiyaami) ].

Atau hal senada yang diriwayatkan dari Abu Darda’, dia berkata, “Kekasihku SAW mewasiatkan tiga perkara kepadaku, aku tidak akan meninggalkannya selama aku hidup; yaitu puasa tiga hari setiap bulan, sholat dhuha dan agar aku tidak tidur sebelum sholat witir.” (R. Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa’i).

Satu Balasan ke Pasca Ramadhan

  1. H.Yusron Nasrulloh / Bekasi Timur mengatakan:

    Alhamdulillah jazakallohu khoero. Tulisan yang mengugah !. Mari kita semua introspeksi !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: