ANTARA CINTA, KASIH, DAN SAYANG

Ketiga istilah ini —cinta, kasih dan sayang— seringkali kita rancukan di dalam penggunaannya. Padahal, mereka adalah fenomena mental yang berbeda-beda. Saking halusnya perbedaannya, bagi sementara orang, boleh jadi merupakan penyebab utama mengapa mereka sering dirancukan. Dan mungkin karena tidak pasti, atau guna lebih mendekatkannya dengan pendengar atau pembaca, dalam penggunaannya, istilah-istilah itu seringkali dirangkai menjadi sebuah kata- bentukan —cinta-kasih dan kasih-sayang.

Tidak seperti cinta, kasih bukan lawan dari benci. Kita bisa mencintai seseorang, sekelompok orang atau sesuatu untuk kurun waktu tertentu, dan kemudian tidak mencintainya lagi, atau malah berbalik membencinya. Namun, sekali kita mengasihi seseorang, sekelompok orang atau sesuatu, kita akan mengasihinya selamanya, seumur-hidup.

Mencintai sesuatu digerakkan oleh rasa senang yang ditimbulkan oleh sesuatu itu, dimana rasa senang itu sendiri bisa lantaran kenikmatan indriawi yang diperoleh melalui kontak dengannya.
Sesungguhnya, kenikmatan indriawi inilah yang kita cintai, lekati.
Apa yang kita cintai, juga kita lekati. Kemelakatan serupa ini punya daya-lekat yang luarbiasa kuatnya.

Namun tidak demikian halnya dengan mengasihi. Rasa kasih tidak dipicu oleh kenikmatan indriawi. Anda tidak mengharapkan kenikmatan indriawi dari yang Anda kasihi. Anda bisa merasakan bentuk kepuasan- batin yang lebih halus, lebih dalam ketika mengasihi dan dikasihi.
Terasa ada resapan rasa aman dan nyaman ketika Anda menerima pancaran kasih bukan? Ini banyak miripnya dengan ketika Anda menerima pancaran sayang. Mungkin oleh karenanyalah mereka seringkali digandeng menjadi `kasih-sayang’. Anda tidak melekat pada yang Anda kasihi, walaupun Anda juga menyayanginya.

Sedikit berbeda dengan mengasihi, di dalam menyayangi ada unsur `pemanjaan’. Kita akan selalu siap memaklumi dan memaafkan yang kita sayangi. Disayang oleh seseorang, kita merasa dimanjakan.
Yang menyayangi kita akan dengan suka-rela memenuhi segala permintaan kita, tak peduli apakah itu baik bagi kita atau tidak.
Namun, pemanjaan serupa itu belum tentu kita dapatkan dari mereka yang mengasihi kita. Ketimbang mengasihi, menyayangi mengandung nuansa emosional yang lebih kental, walau tak sekental mencintai.
Sedangkan, mengasihi punya kandungan rasional yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dikandung oleh keduanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: