Kediri – Hubungan Akbar Tandjung dengan Pondok Pesantren Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) terjalin dengan baik. Keduanya saling mengagumi satu sama lain. Hal ini terungkap pada waktu silaturahmi yang dilakukan Akbar Tandjung ke PonPes LDII Kediri, Selasa (29/04).
Bagi Akbar Tandjung, PonPes LDII Kediri mempunyai kenangan yang sangat indah. Pada 1977, ketika untuk pertama kalinya menjadi Calon legislatif Dewan Perwakilan Rakyat dari daerah pemilihan Jawa Timur, Akbar Tandjung sudah berkunjung kesana. Tentunya ia pun berkunjung ke berbagai pondok LDII lainnya seperti di Kertosono.
Akan tetapi, kenangan yang tidak akan dilupakan oleh Akbar Tandjung terjadi pada saat tahun 1999. Pada waktu Partai Golkar menghadapi tuntutan dan tekanan besar dari banyak lapisan masyarakat untuk dibubarkan. Ketika itu, Akbar Tandjung justru disambut baik oleh LDII. “Dalam suasana yang masih seperti itu, saya merasa betul-betul diterima dengan begitu baik oeh LDII,” ucap Akbar Tandjung dalam sambutannya pada sata silaturahmi kali ini.
”Hal itu tidak bisa saya lupakan,” tegas Akbar. Menurutnya, kejadian itu membuatnya semakin dekat dengan LDII. Terutama disaat Golkar mengalami berbagai tekanan-tekanann yang sangat berat. Hal ini sekaligus memeperkuat keyakinannya yang pada waktu itu menjabat Ketua Umum Partai Golkar, bahwa ternyata masih banyak rekan-rekan yang terus setia kepada Golkar.
”Oleh karena itulah saya harus terus menjaga hubungan dengan LDII sehingga saya kemari lagi,” ucap Akbar mengutarakan maksud kedatangannya kali ini.
Kedatangan Akbar Tandjung ini pun diambut baik oleh Pengasuh PonPes LDII Kediri, K.H. Kuncoro Kaseno SE. Ia mengaku merasa bahagia bisa mendapatkan kunjungan dari seorang Akbar Tandjung yang memang dikaguminya. ”Bang Akbar merupakan tokoh bangsa. Kami pun meneladani kesabaran dan keuletan beliau,” ucap K.H. Kuncoro Kaseno SE.
Akbar Tandjung menilai LDII sebagai organisasi sosial kemasyarakatan Islam yang mempunyai perhatian besar terhadap dakwah Islam dan pengembangan kegiatan sosial dalam rangka meningkatan kehidupan umat Islam. ”Bagi saya LDII memberikan kontribusi besar dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa kita,” ucap Akbar Tandjung.
”Organisasi LDII ini merupakan salah satu aset kita yang sangat bagus buat bangsa dan umat Islam. Saya berharap LDII terus meningkatkan kontribusinya tersebut,” lanjut Akbar Tandjung.
Pondok pesantren ini memang termasuk besar. Disana terdapat bangunan-bangunan asrama bertingkat untuk menampung 7000 orang santri mereka. Begitu pula dengan gedung-gedung untuk melakukan kegiatan belajar mengajar mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hngga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.
Di PonPes yang terletak di Burengan, Banjaran, Kediri tersebut, Akbar Tandjung pun tidak lupa untuk meminta restu untuk mengikuti pemilihan presiden 2009. ”Insya Allah kami akan membicarakan tujuan Bapak tersebut. Yang pasti kita akan doakan hal tersebut. Semoga Allah memberikan izinya,” sambut K.H. Kuncoro Kaseno SE.
Silatupada siang hari itu ditutup dengan doa bersama demi kesuksesan semua pihak. Kemudian ramah tamah dilanjutkan dengan acara makan siang bersama seluruh pengajar di pondok pesantren tersebut.(gees)
Sumber :http://www.bangakbar.com/news/1/tahun/2008/bulan/04/tanggal/30/id/269/index.html
Ditulis oleh Efran
Ditulis oleh Efran
Ditulis oleh Efran 
Menjadi golongan putih (golput) diharamkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Umat Islam diwajibkan memilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2009. “Wajib bagi bangsa Indonesia untuk memilih pemimpin. Kalau yang
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan rokok untuk anak-anak dan remaja dinilai sebagai langkah maju. Tapi langkah itu dinilai belum cukup. “Komnas PA (Perlindungan Anak) memberikan apresiasi pada MUI sebagai langkah awal untuk melindungi hak hidup anak. Ini langkah maju melindungi hak hidup anak dari bahaya tembakau,” ujar Sekjen Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait kepada detikcom, Minggu (25/1/2009).
Para tukang ojek menawarkan jasanya kepada jamaah haji
Untuk bisa sampai ke Masjidil Haram, ojek seharga 50 rael (150 ribu) pun ‘dijabanin’