Aktivitas Pengajian LDII

November 4, 2008

LDII menyelenggarakan pengajian dengan rutinitas kegiatan yang cukup tinggi karena Al Qur’an dan Al Hadits itu merupakan bahan kajian yang cukup banyak dan luas. Di tingkat PAC umumnya pengajian diadakan 2-3 kali seminggu, sedangkan di tingkat PC diadakan pengajian seminggu sekali. Untuk memahamkan agama islam yang sesuai dengan qur’an dan hadist, LDII mempunyai program pembinaan cabe rawit (usia prasekolah sampai SD) yang terkoordinir diseluruh masjid LDII. Selain pengajian umum, juga ada pengajian khusus remaja dan pemuda, pengajian khusus Ibu-ibu, dan bahkan pengajian khusus Manula/Lanjut usia.Ada juga pengajian UNIK (usia nikah) Disamping itu ada pula pengajian secara umum kepada masyarakat yang ingin belajar Al-qur’an dan hadits. Pada musim liburan sering diadakan Kegiatan Pengkhataman Al-qur’an dan hadits selama beberapa hari yang biasa diikuti anak-anak warga LDII untuk mengisi waktu liburan mereka. Dalam pengajian ini pula diberi pemahaman kepada seluruh warga LDII tentang bagaimana pentingnya dan pahalanya orang yang mau belajar dan mengamalkan Al-qur’an dan hadits dalam keseharian mereka.

Setiap bulan Ramadhan, terutama pada 10 hari terakhir bulan ramadhan, seluruh masjid LDII selalu penuh sesak digunakan oleh masyarakat beribadah non-stop mulai jam setengah delapan malam (sehabis sholat Isya’) hingga sebelum subuh (sekitar pukul setengah empat pagi) untuk mencari Lailatul Qadar.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/LDII


Metode Pengajaran LDII

November 4, 2008

Di dalam mengajarkan ilmu Alqu’ran dan Alhadits, LDII tidak menggunakan sistim kelas seperti pada umumnya. Metode penyampaian guru membacakan Al Quran,mengartikannya secara kata per kata dan menafsirkannya dengan dasar penafsiran dari hadits yang berkaitan dan penjelasan beberapa ahli tafsir, misalnya tafsir Ibn Katsir. Murid-murid mencatat arti kata-per kata di Al Qurannya dan juga penjelasan tafsirnya. Untuk AL Hadits cara yang sama diajarkan, dimana guru dan murid sama-sama memgang hadits yang sama dan melakukan kajian. Hadits yang dipelajari adalah utamanya hadits kutubussittah (Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Nasai, Timidzi, Ibn Majah) dan juga hadits lainnya seperti Malik al Muatho, dan musnad Ahmad., disamping itu mereka juga mempelajari himpunan hadit sesuai temanya, sepeti kitab sholat yang berisi tatacara sholat sesuai ajaran Nabi Muhammad yang tertulis dalam beberapa sumber hadits, kitab puasa (shoum), kitab manasik haji, dan lain-lain. Dengan mempelajari hadits secara langsung dari kitab aslinya berarti secara langsung mengetahui suatu hadits apakah shohih atau lemah, sehingga terhindar dari rusaknya ilmu dan amal mereka.

Metode pemaknaan perlafadz itulah yang membuat para anggota LDII banyak menguasai kata-kata arab yang sangat berguna dalam kehidupan beragama. Misalnya mereka dapat mengerti apabila sedang membaca Al Quran tanpa harus mempelajari ilmu bahasa arab atau ilmu alat (nawnu, shorof) karena ulama LDII beranggapan bahwa pencerdasan ilmu Al Quran bukan hanya milik ulama tetapi untuk semua orang, karena memang AL Quran diturunkan untuk seluruh umat manusia bukan hanya untuk ulama tertentu.

Semoga Allah Ta’ala memberi petunjuk pada kita semua.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/LDII


LDII Tidak Eksklusif

November 4, 2008

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) merupakan organisasi keagamaan yang terbuka untuk umum. Tidak ada eksklusivitas pada tubuh organisasi itu. Ketua Umum DPP LDII Prof. Abdullah Syam mengatakan hal itu usai pembukaan rapat kerja daerah (rakerda) DPD LDII Provinsi Lampung, di Kompleks Kantor Pemprov Lampung.

Menurut Abdullah Syam, dalam perkembangannya, LDII bekerja sama dengan organisasi lain. Sehingga tidak ada kesenjangan antara masyarakat, anggota organisasi keagamaan lain, serta LDII. “Saat ini LDII terbuka untuk umum. Begitu juga dengan sarana dan prasarana milik LDII dapat dinikmati masyarakat.”

LDII, kata dia, bersifat inklusif, bisa bekerja sama dengan lembaga mana pun. Hanya orang yang belum tahu tentang LDII yang menganggap LDII eksklusif.

Syam menambahkan LDII memiliki anggota lebh dari 7,5 juta orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Walaupun memiliki anggota sebanyak itu, bukan berarti tidak menghadapi kendala dalam perjalanan organisasi. “Yang dipermasalahkan bukan akidah, namun kurangnya pemahaman tentang LDII serta adanya kecemburuan dalam dinamika sosial di masyarakat,” kata Syam.

Selain mengklarifikasi mengenai keterbukaan LDII bagi masyarakat umum, pada forum rakerda itu Syam juga mengklarifikasi beberapa hal. Di antranya, LDII merupakan organisasi berbasis keagamaan memiliki paradigma baru. LDII juga bukan kelanjutan dari islam jamaah serta tidak menggunakan dan menganut sistem keamiran. “Ketua LDII itu saya, jadi segala sesuatu mengenai keadaan maupun kegiatan LDII menjadi tanggung jawab saya,” tegas Syam.

Ditanya soal perkembangan LDII di Lampung, Syam mengatakan Lampung merupakan daerah dengan perkembangan paling baik. Lampung dapat dijadikan percontohan bagi daerah lain. Walaupun memiliki kemajemukan budaya, satu sama lain saling menghargai.

Hal senada diungkapkan Ketua Umum DPD LDII Provinsi Lampung Kusnadi. Perkembangan LDII di Lampung sangat pesat, hingga kini sudah terdaftar seribu anggota LDII dari 11 kabupaten/kota se-Provinsi Lampung. “LDII berkembang baik dibanding 2005, kini sudah ada 150 pimpinan cabang seluruh Lampung,” kata Kusnadi.

Secara luas masyarakat telah menerima kehadiran LDII di tengah-tengah kemajemukan agama, budaya maupun ras. LDII telah bekerja sama dengan organisasi lain, misalnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI). n */K-1 (www.lampungpost.com)

Sumber : http://blogldii.wordpress.com/2008/11/01/ldii-tidak-eksklusif/