LDII di Kota Santri

Oktober 30, 2008

Hujan deras baru saja usai. Hanya rintik gerimis yang tersisa ketika Sabili tiba di Pondok Pesantren LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) di Desa Burengan, Banjaran, Kediri, Jawa Timur. Dua orang petugas Satpam tampak berjaga di kantor pos belakang pintu gerbang berwarna hijau yang memisahkan pesantren dengan dunia luar.

Kompleks pesantren yang disebut sebagai pusat pembinaan kader-kader dakwah LDII ini memang tampak megah dan mewah. Bangunan asrama santri, masjid, maupun ruang kelas dan perkantorannya terlihat rapi dan bersih. Beberapa gedung diberinama DMC (Duta Motor Club), karena konon sang pendiri pondok, Nur Hasan Ubaidah, memang doyan menunggang motor gede sejenis Harley Davidson. Hobinya itu diabadikan dalam nama DMC pada beberapa gedung di komplek pesantren seluas 2,5 hektare tersebut.

Pimpinan pesantren LDII yang sekarang, H Kuncoro Kaseno menuturkan, pondoknya didirikan oleh ulama untuk mengenalkan agama Islam berdasarkan Qur’an dan hadits. “Jadi, kami betul-betul mendasarkan ajaran Islam dari Qur’an dan Hadits. Yang kita kaji khusus Qur’an dan hadits kemudian ada juga ilmu alat (nahwu dan shorf) dan lain sebagainya,” ujarnya.

Menurut Kuncoro, sifat eksklusif yang melekat di pesantrennya tidak lepas dari situasi politik. LDII sebetulnya tidak berpolitik tapi terkena imbasnya. “Kita telah berusaha melepas kesan eksklusif itu selama bertahun-tahun. Bertahun-tahun kami menjelaskan bahwa ajaran LDII adalah Qur’an-hadits. Cuma, orang-orang masih belum mengenal. Mereka (umat Islam di luar LDII) saja yang menganggap kami tertutup,” katanya.
Selain sikap eksklusifnya, yang juga terkenal dari LDII adalah perlakuan mereka yang mengepel masjid setelah digunakan shalat oleh umat Islam non-LDII. Sehingga muncul kesan, LDII menajiskan orang di luar jamaahnya. Namun, Kuncoro dengan tegas membantah. “Kami betul-betul mempelajari bagaimana membuang najis dan bagaimana kita hati-hati terhadap najis. Amalan kita dimulai dari sholat dan sholat itu dimulai dari bersuci,” ujarnya. Mengepel masjid, menurut Kuncoro, sudah merupakan tugas rutin.

Kuncoro juga mengaku bahwa orang luar sering melakukan sholat di masjid pondoknya, bahkan pernah mendapatkan kunjungan dari Majlis Ugama Islam Singapura (MUI-nya Singapura).

Pesantren yang pernah jadi pendulang suara Golkar ini juga tidak mengajarkan fiqh empat Imam Madzhab, Maliki, Syafi’i, Hanafi dan Hambali kepada para santrinya. Madzhab-madzhab itu hanya dipelajari di kalangan ustadz saja. Yang disampaikan kepada siswa-siswi hanya yang sudah matang, terutama dari Kutubus Sittah, enam kitab hadits. Semua kitab hadits itu dipelajari secara bergantian. Jika Bukhari telah khatam diganti Muslim, Muslim khatam diganti Nasa’i dan seterusnya.

Salah seorang sesepuh pondok LDII bernama H Abdus Syakur bahkan dengan lantang menganggap kitab-kitab karangan para Imam Madzhab (kitab fiqih) sebagai sesuatu yang bohong karena tidak sesuai dengan Qur’an dan hadits. “Sampeyan (Anda) sekarang maunya menganggap unggul karangan orang atau karangannya Allah dan kitab Rasul? Lebih baik mana kitab Allah dan Rasul-Nya dibandingkan dengan karangan orang?” katanya balik bertanya.

Pria 84 tahun mantan juru sumpah Pengadilan Negeri ini mengaku telah mempelajari semua kitab Imam Madzhab semenjak kecil, namun tak satu pun yang berkenan di hatinya karena tidak sesuai dengan Qur’an-hadits. “Saya juga keturunan kiai, orangtua saya kiai, embah (kakek) saya juga kiai. Tapi saya tidak mau seperti itu, karena mereka hanya kiai yang ahli kitab seperti itu,” kata Syakur.

Syakur juga sempat memberikan nasihat. “Saya ingatkan sampeyan, bahwa orang itu pasti mati. Oleh karena itu, sampeyan harus betul-betul mempelajari Qur’an dan hadits. Nanti sewaktu-waktu pasti masuk surga kalau mempelajari Qur’an dan Hadits.”

Salah satu metode pendidikan yang terkenal di LDII adalah sistem manqul (pemindahan), di mana seorang guru mentransfer ilmunya kepada murid dengan cara berhadap-hadapan langsung.

LDII juga mempunyai suatu pelajaran bernama Qiro’atus Sab’ah, di mana manqul-nya di Malaysia. Manqul ini adalah jaminan bahwa pelajaran yang diterima adalah sesuai dengan yang diberikan Rasulullah. Jemaah LDII hanya ingin agar amalan mereka diterima oleh Allah SWT, jadi tinggal melihat bagaimana Rasulullah. Tidak ada istilah menyesatkan orang lain. “Kita hanya ingin apa yang diberikan oleh Rasul, itu yang kita pergunakan. Manqul itu adalah untuk menjaga orisinalitas,” kata Kuncoro.

Kuncoro menambahkan, ikhtilaf itu rohmatun (perbedaan adalah rahmat). Meski bukan berdasarkan Qur’an-hadits, LDII tetap menghargai umat Islam yang lain. LDII tidak mungkin memaksakan kehendak karena dalilnya sendiri ada. “Oleh karena itu, kita lebih banyak melakukan pembinaan ke dalam, beribadah yang benar menurut kita yang bisa mengantar kita masuk surga, itu saja,” ujarnya.

Kadang-kadang, kata Kuncoro, LDII sering diadu domba dan dianggap mengkafirkan orang, padahal tidak. Kenapa LDII punya masjid sendiri, karena memang kegiatannya banyak. Masjid itu bagi LDII adalah pusat kegiatan, pusat ilmu. Pengajian mereka mulai Subuh hingga Isya. Dikhawatirkan, kalau memakai fasilitas umum akan mengganggu jemaah yang lain.

Dengan berbagai keunikan dan keanehan yang melekat pada LDII, tak ayal masyarakat umum menganggap ajaran Islam yang dijalani jemaah ini adalah sesat. Berbagai tuduhan pun melayang ke ormas yang dibentuk oleh Nur Hasan Ubaidah yang juga pendiri pondok LDII Kediri.

Salah seorang pengikut LDII di Surabaya bernama Choirul Hadi, melihat tuduhan terhadap lembaganya bersifat relatif. Hanya masalah komunikasi dan soal pemahaman. Yang sering terjadi di masyarakat adalah perbedaan permahaman dan kurangnya sikap saling memahami.

Keluarga Choirul sendiri, termasuk pelopor berdirinya LDII di Surabaya. Pada tahun 1980 dia pernah mendapat penolakan frontal dari masyarakat Kota Buaya itu. Tapi ketika dicari inti masalahnya, ternyata pada bukan masalah agama namun masalah lain.

“Saya pikir, ini masalah waktu saja. Suatu saat, saya yakin masyarakat akan lebih dewasa, lebih cerdas, dan mereka memandang perbedaan itu sebagai suatu kekayaan, bukan kekurangan,” kata Choirul.

Sumber : http://chairulakhmad.wordpress.com/2007/05/09/ldii-di-kota-santri/


Hanya MUI Bisa Memberi Stempel Sesat

Oktober 30, 2008

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang menunda sidang putusan sela terhadap terdakwa Hajarullah Aswad, yang diduga melakukan pencemaran nama baik dan penistaan agama, Selasa (28/10). Penundaan ini karena majelis tidak lengkap, sehingga membuat kecewa puluhan warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang memenuhi ruang sidang utama pengadilan. LDII dalam hal ini menjadi korban dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan terdakwa dalam talk show di RRI pada November 2007.

Hajarullah didakwa telah melakukan perbuatan di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian, dan penghinaan terhadap Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) serta pencemaran nama baik. Hal itu diungkapkan terdakwa pada acara talk show di Radio Republik Indonesia (RRI) tanggal 3 November 2007, sekitar pukul 08.00 WIB, dengan topik Al Hidayah Al Islamiyah. Atas sebab itu jaksa penuntut umum (JPU) mendakwa Hajarullah dengan pasal 156 Junto pasal 310 KUHP.

Menangapi penundaan sidang ini,  Ketua Umum LDII Kepri Drs H Abdul Manap Chaniago mengatakan seorang tokoh agama hanya membaca buku dan menyatakan sebuah organisasi sesat, merupakan perbuatan yang tidak pas.

“Tokoh agama dan bekerja di Departemen Agama, seharusnya terdakwa lebih arif dan profesional,” tegasnya. ia mengaku sangat menyayangkan sikap yang tidak profesional terdakwa, karena jika terdakwa profesional seharusnya kasus ini tidak masuk ke pengadilan. “Saya cukup kecewa dengan penundaan ini, namun itu adalah proses hukum,” ungkap dia.

Mengenai banyaknya warga LDII yang hadir, Manap menyatakan sebagai bentuk support bukan ada maksud lain.  Dijelaskan Abdul Manap, yang berhak memberikan stempel sesat adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan fatwanya. Dia mengatakan sampainya kasus ini ke pengadilan, karena terdakwa meminta diselesaikan di pengadilan. “Kami hanya meminta keadilan dan hukum ditegakkan,” imbuh dia.

Tentang buku yang menjadi pedoman terdakwa, menurut Abdul Manap, itu adalah orang-orang yang mencari uang dengan menerbitkan buku. Dan buku itu sudah lima tahun lalu beredar, namun LDII adalah orang-orang Islam yang menjalankan Al Quran dan hadits, dan tidak ada fatwa MUI yang melarang LDII.

“LDII adalah sebuah lembaga dakwah, bukan aliran tertentu yang menyimpang dari ajaran agama Islam,” tegas Manap.  Dia mengatakan jika umat salah, jangan dimusuhi tetapi dirangkul. Apalagi oleh seorang yang bekerja di Depag. Dia menambahkan jika ada keraguan dengan LDII silakan datang, masjid LDII tersebar di banyak tempat di Kepri. Manap juga mengaku memiliki sekitar 7.000 warga.(gas)
http://tribunbatam.co.id/index.php/pinang-region/hanya-mui-bisa-memberi-stempel-sesat


Persinas Asad Raih ‘Outstanding Performance’ di Festival Beladiri Dunia

Oktober 30, 2008

Perguruan Silat Nasional (Persinas) Asad yang mewakili Indonesia meraih prestasi membanggakan di Festival Beladiri Dunia (Chungju World Martial Arts Festival) di Chungju Korea Selatan. Persinas Asad meraih prestasi tiga besar peserta terbaik dengan predikat luar biasa (outstanding performance) bersama peserta dari Jepang dan Cina.

Persinas Asad ditunjuk PB IPSI ( Ikatan Pencak Silat Indonesia) mewakili Indonesia bersama perguruan silat Joko Tole Madura dan perguruan Pamor Pamekasan. Persinas Asad sendiri diwakili oleh Pengda Persinas Jawa Barat yang kemudian memberangkatkan lima pendekarnya dari Bandung. Tiga pendekar masih duduk di bangku SMP dan dua lainnnya seusia SMK.

Chungju World Martial Arts Festival adalah festival bela diri se-dunia yang diadakan setiap 10 tahun sekali. Dimana, dari berbagai negara akan menampilkan ciri khas bela diri masing-masing. Misalnya, Indonesia dengan pencak silat, China dengan Wushu, Korea dengan Taekgyeon, Canada dengan Oki Chi Taw serta Australia dengan Tai-Kin-Jeri. PB IPSI sendiri telah mengikuti festival bela diri dunia sejak World Martial Arts Union (WOMAU) digelar kali pertama. Festival tersebut selalu mengundang 56 aliran bela diri dari 45 negara yang berasal dari 5 benua.

Untuk festival beladiri Chungju Martial Arts ke 11 ini diadakan di Chungju Tangeumdae UN Peace Park dimulai dari 2 Oktober sampai 8 Oktober 2008. Festival diikuti 28 negara yang terdiri dari 51 tim dengan jumlah pendekar sebanyak 1210. Info selebihnya bisa di baca di http://martialarts.or.kr


Pasca Ramadhan

Oktober 14, 2008

Setiap orang punya kesan berbeda ketika menjumpai ramadhan. Setiap orang punya harapan berbeda ketika melewati ramadhan. Setiap orang punya cerita yang berbeda ketika merayakan lebaran. Apakah kesan yang nyantel di benak kita sekarang? Setelah ramadhan?

Banyak orang merasakan hal yang biasa. Puasa ya seperti itu. Tarawih ya begitu itu. Lebaran apalagi, dari dulu ya seperti itu. Ada ketupat, opor, lontong dan berbagai kudapan lain aroma pesta. Ada halal bil halal, saling memaafkan, baju baru dan silaturahim antar sesama. Ada mudik, ada kemacetan dan paceklik pembantu di hampir semua pintu.

Sebagian lagi ada yang memaknai ramadhan sebagai ujian. Hari demi hari diisi dengan banyak beribadah. Tekun. Mereka berusaha khusyu’, tawadhu’. Meninggalkan yang lahan – lahan. Menjauhi kemaksiatan. Emoh dosa dan rakus pahala. Mereka menghentikan semua yang tidak berguna. Mengepolkan cari pahala. Bahkan mencoba beramal yang luar biasa. Seolah-olah mencari pulihan. Tetapi begitu lebaran tiba, keadaan menjadi berbeda. Mereka sibuk merayakannya. Mereka sibuk berpesta. Perut – perut bagai waduk. Terisi sejuta makanan apa saja. Mereka merayakan seolah mereka telah lulus ujian selama sebulan. Alhasil setelah lebaran perilaku mereka kembali seperti semula. Tak ada kelanjutan dan sisa dari amalan bulan ramadhan mengisi hari – hari di depannya.

Sebagian lagi, ada yang memaknai ramadhan sebagai bulan pelatihan. Bulan melatih diri untuk meningkatkan amalan. Bukan bulan ujian. Mereka menyambut bulan ramadhan ini dengan penuh cemas dan hati – hati. Apa yang mau dilatih di bulan suci ini agar meningkat di kemudian hari? Apa yang perlu diperbaiki di bulan lailatul qodar ini? Apa yang perlu disucikan dari harta dan jiwa ini? Doanya selalu minta ampunan. Tarawihnya berlandaskan keikhlasan. Tadarusnya berharap kedekatan. Sedekahnya menuju pada kedermawanan dan i’tikafnya sebagai bukti kesungguhan. Puasanya sebagai media merasakan kehadiran-Nya. Zakatnya sebagai pensuci jiwa dan raganya. Amalan sunnah lainnya ditingkatkan demi keridhoan-Nya. Dan ketika lebaran tiba, gema takbir menjadi pertanda untuk segera mempraktikkan apa yang telah dilatih itu di hari – hari berikutnya. Dengan hati dan jiwa yang suci, semakin trengginas dan methithi. Menyingsingkan baju, mengisi bulan – bulan berikutnya seperti amalan di bulan ramadhan.

Ada dimanakah kita dari tiga pilihan itu? Pilihan yang biasa – biasa saja, ujian atau pelatihan? Mumpung belum jauh mari kita introspeksi lagi. Adakah kita sudah lupa bagaimana mendirikan 11 rekaat setelah isya’? Adakah kita keberatan untuk tadarus lagi? Adakah kita merasa capek beribadah? Adakah kita jumawa telah beramal banyak? Adakah susah menjaga ibadah sunnah lainnya? Apakah kita enggan meneruskan tradisi berpuasa? Kenapa semua seolah hilang begitu saja? Kesungguhan itu sirna bersama aroma pesta hari raya. Adakah ada yang kurang pas dengan ibadah kita?

Kekeliruan itu ada pada cara pandang kita terhadap bulan yang mulia dan barokah itu. Kebanyakan kita memandang sebagai bulan ujian bukan sebagai bulan pelatihan. Hasilnya seperti yang banyak kita lihat saat ini. Semua seolah kembali lagi pada kondisi semula, pasca ramadhan dan tidak ada jejak sama sekali yang tersisa. Kecuali aroma pestanya. Setidaknya ketika selesai ramadhan kita bisa dirikan sholat sunnah setelah isya. Tidak perlu 11 rekaat, sebab anyang-anyangen. Mungkin juga tidak qiyamul lail. Cukuplah witir saja sebelum tidur. Setidaknya ketika selesai ramadhan kita bisa sambung puasa sunnahnya, 6 hari di bulan syawal dan tidak perlu banyak – banyak cukup 3 hari saja per bulan lainnya. Untuk menggugah kembali, mari kita simak hadist berikut ini.

Dari Ai’syah r.a, “Sesungguhnya Nabi SAW tidak menambah di dalam bulan Ramadhan dan tidak pula mengurangkannya dari 11 rakaat.(R. Al-Bukhory).

Hadist ini sering kita pahami hanya masalah jumlah rekaatnya saja yaitu 11 rekaat sholat tarawih. Padahal selain itu, hadist ini menampakkan kontinuitas amalan di bulan sebelum, selama dan sesudah ramadhan. Artinya datangnya ramadhan adalah sebagai refreshing, up date, pembaharuan, charge, dan semisalnya bukan sebagai ujian. Ramadhan datang sebagai penggembira ketika kepenatan beribadah dalam 11 bulan datang. Banyak sekali kefadholan – kefadholan ada di dalamnya. Oleh karena itu alangkah naifnya jika ternyata, setelah ramadhan kita berada atau kembali seperti keadaan semula, tanpa bisa menjaga kedawaman salah satu amalan yang kita perbuat dikala ramadhan. Sebab wasiat – wasiat junjungan kita Nabi Muhammad SAW begitu jelas untuk menjaga amalan itu langgeng walau hanya sedikit.

Dari Abu Huroiroh r.a, dia berkata, ”Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga perkara, agar aku berpuasa tiga hari setiap bulan, melaksanakan sholat dhuha 2 rekaat dan melaksanakan sholat witir sebelum tidur.”[Rowahu Al-Bukhory (Kitaabu al-Jumu’ati), Muslim ( Kitaabu Sholaati al-Mufaasiriina wa qoshrohaa), Abu Dawud (Kitaabu As-Sholaah), at-Tirmidzi (Kitaabu as-Shoumi) dan an-Nasa’i (Kitaabu as-Shiyaami) ].

Atau hal senada yang diriwayatkan dari Abu Darda’, dia berkata, “Kekasihku SAW mewasiatkan tiga perkara kepadaku, aku tidak akan meninggalkannya selama aku hidup; yaitu puasa tiga hari setiap bulan, sholat dhuha dan agar aku tidak tidur sebelum sholat witir.” (R. Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa’i).


LDII Serang Mengadakan Sholat Idul Fitri 1429 H

Oktober 4, 2008
Seperti tahun-tahun sebelum nya, tahun ini kembali PC LDII Kecamatan Kramatwatu mengadakan Sholat Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 1 Oktober 2008 kemarin, kegiatan ini salah satu rangkaian kegiatan ramadhan 1429 H yaitu dimulai kegiatan pengajian selama bulan ramadhan 1429 H yang dilakukan di tiap PAC-PAC baik berupa tadarusan maupun pengajian Al Qur;an dan Al Hadits, kemudian pada 10 malam terakhir diadakan kegiatan i’tikaf yang dipusatkan di mesjid Al Musawwa termasuk kegiatan sahur bersama bagi remaja, penerimaan dan pembagian zakat fitrah, dan sebagai puncak dilakukan sholat Idul Fitri di pelataran parkir mesjid Al Musawwa.

Dalam sholat Idul Fitri tahun ini bertidak sebagai Imam dan Khotib adalah ustadz Khoirul Hadi, dalam kutbah nya Ustadz Khoirul Hadi memberi nasehat supaya umat Islam menjaga sholat nya terutama sholat wajib nya karena sholat itu adalah tiangnya agama. Barang siapa yang dapat menjaga sholat nya maka Alloh swt akan menjaganya, tapi jika disia-siakan maka Alloh swt akan menyiakan nyiakan kita.

Setelah selesai acara sholat Idul Fitri dilanjutkan dengan penyampaian sambutan Idul Fitri 1429 H dari DPD LDII Provinsi Banten yang disampaikan oleh ketua DPD LDII Kabupaten Serang Bapak H. Giri Prastowo, ST dalam sambutannya salah satunya mengajak agar umat Islam untuk hidup rukun dan Idul Fitri 1429 H kali ini dijadi momen yang tepat untuk silaturrohim dan saling memaafkan antara kerabat dan famili, karena disamping kesalahan bisa saling diislahkan Alloh swt akan memberikan umur panjang dan melapangkan jalan rezeki kepada kita, karena Nabi bersabda “Barang siapa yang menghendaki dibentangkan jalan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung familinya (silaturrohim)” HR. Bukhori. (AB)